Menarik Perhatian

Posted by on 18 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Advise

Oleh: Arie Gere

Pilar cepat-cepat menjauh dari ruangan. Dia tidak mau ketahuan oleh Gina, apalagi Galih, bahwa dari tadi dia menguping pembicaraan kedua orang itu.

“DUARRRRR! Ketahuan! Kamu lagi mengintip siapa?”

Tahu-tahu Prudi sudah berada di sebelah Pilar. Pilar menggelengkan kepalanya tergesa-gesa, sambil tak acuh berjalan meninggalkan Prudi. Prudi merendengi langkah Pilar yang panjang-panjang.

“Kamu mau balas dendam sama Galih?”

“Aku? Balas dendam? Sama sekali nggak!” Pilar mendengus. “Norak banget sih, pakai balas dendam segala. Memangnya lagi di film, Pru?”

“Menurutku, sekali-kali kamu harus mengulurkan persahabatan sama dia. Mungkin dia mengganggu kamu karena dia ingin sekali mendapat perhatianmu. Orang itu ingin sekali menjadi sahabatmu, Pil.”

“Yang benar?”

Continue Reading »

Advise

Posted by on 17 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Gina dan Galih

Oleh: Nuha Guwa

Pilar lagi bergegas ke toilet ketika tiba-tiba dia mendengar suar Galih di balik ruangan. Langkahnya berhenti. Galih? Pilar berusaha mengintip lewat jendela. Benar, itu Galih! Dia kaget melihat Galih tertunduk di hadapan Gina, seakan ada sesuatu yang menyusahkan dirinya. Pilar memberanikan diri untuk bertahan di sana, memasang telinga tinggi-tinggi.

Kata-kata Gina sebenarnya tidak terlalu terdengar oleh Pilar, tapi pasti begitu menohok buat Galih. Dia terus mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan itu tanpa berani membuat suara apa-apa.

Badan Galih yang tadinya tegak tiba-tiba melengkung. Melihat Galih diam saja, Gina mengulangi pernyataannya sekali lagi.

“Galih, coba kamu sadari benar-benar, apa yang membuatmu tidak menyukai Pilar?”

“Dia…” Bibir Galih kering. “…dia sok pintar, Miss. Nggak suka berbagi. Sendirian terus-terusan, nggak mau bergaul dengan yang lain. Sombong. Belagu.”

Continue Reading »

Gina dan Galih

Posted by on 16 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Masalah Serius

Oleh: FlaPuding

Kekalutan Galih dalam hati seolah tergambar jelas dari air mukanya yang berubah mengeras. Alisnya mengerut seperti menahan geram. Tapi Gina berhasil menangkap mimik muka tersebut.

“Saya tahu kalau kamu mungkin tidak cocok berteman dengan Pilar. Entah apa alasannya. Mungkin seperti ada pepatah `tak kenal maka tak sayang’. Maksud saya, ‘sayang’ dalam konteksnya sebagai teman. Kalau tidak mengenal baik seorang teman, kita bisa saja salah memberikan penilaian. Maka kekesalan selalu muncul setiap kali melihat orang itu, yang pada akhirnya menumpuk menjadi benci.”

Galih diam, hanya mendengarkan Gina berbicara. Sesekali alisnya mengerut seolah ikut memikirkan apa yang dijelaskan Gina.

“Nah, Galih, rasa benci terhadap orang lain itu akibat dari dalam kita sendiri. Jika kita membenci seseorang, yang salah ada pada diri kita, bukan orang yang kita benci.”

Continue Reading »

Masalah Serius

Posted by on 15 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Kertas Ujian

Oleh: Arie Gere

“Galih, kamu lagi ada masalah serius?”

Galih menyelami tatapan Gina. Kenapa tiba-tiba guru bahasa Inggris yang satu ini memperhatikan nilai-nilainya? Kok bukan Ibu Sulistiawati sebagai wali kelas? Bukannya dia sudah masuk dalam daftar hitam Miss Gina? Bukan daftar hitam dalam pelajaran, tetapi daftar hitam dalam perilaku.

“Saya sedang berbicara denganmu, Galih.”

Nada bicara Gina sedikit lebih tinggi saat Galih gelagapan menjawab pertanyaan Gina. Bagaimana mengatakan semuanya baik-baik saja kalau sebenarnya memang ada sesuatu?

“Saya tidak ada masalah, Miss.”

Gina tidak percaya. Raut wajah Galih yang kurang bersahabat menunjukkan ada sesuatu. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya. Gina menebak-nebak. Mungkin sesuatu itu berkaitan dengan…..

“Kamu sudah baikan sama…” Gila mendongak menatap Galih lurus-lurus tanpa berkedip. “Pilar?”

Continue Reading »

Kertas Ujian

Posted by on 14 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Marah yang Ruwet

Oleh: Bening

Gina mengumpulkan lembar jawaban Ujian Tengah Semester yang bertebaran di meja dengan pikiran berkecamuk. Dipandanginya kembali rekap nilai ujian bahasa Inggris siswa-siswanya. Satu sisi ada perasaan bangga, karena secara rata-rata nilai mereka mengalami peningkatan. Tapi…

Galih
Nilai UTS: 40
Tugas : 30, 65, 72

Mungkin ada baiknya dia memanggil Galih, pikir Gina sambil terpekur. Apa mungkin karena dia mengetahui pertengkaran Galih dengan Pilar membuat Galih tidak menyukainya? Keengganannya belajar sebagai bentuk pembangkangannya terhadapnya? Tapi sikap Galih di kelas biasa saja, tidak membuat onar, dan tetap berusaha memperhatikan. Ah, mungkin sebelum memanggil Galih, ada baiknya dia mengecek nilai Galih di komputer akademik.

Continue Reading »

Marah yang Ruwet

Posted by on 13 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Pertemuan tak Terduga

Oleh: Nuha Guwa

Pemandangan yang mengerikan. Seana menatap tanpa berkedip ke arah Yon dengan rasa tidak percaya. Lelaki itu memeluk, lalu menggandeng seorang perempuan yang tak dikenal, lalu mereka berdua menghilang di antara punggung-punggung manusia lainnya.

Hati Seana sontak mendidih. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya hanya halusinasi, atau lelaki yang mirip dengan seseorang.

“Itu betul Yon!” bisik Seana, menggigit bibirnya dengan geram. Seana mencoba agar suaranya terdengar acuh tak acuh, dia tidak tahan untuk tidak memaki. ”Dasar cowok brengsek!”

Seana nyaris menghampiri Yon. Gina memegang tangan Seana dengan erat.

“Aku tidak menyangka Yon seperti itu. Dia tidak pernah tobat mengkhianati Ciel.  Jahat! Jahat banget!” Suara Seana bergetar menahan amarah. Dia berulang kali menoleh, memperhatikan gerak-gerik sepasang kekasih itu yang sedang mengantri bioskop.

Continue Reading »

Pertemuan tak Terduga

Posted by on 12 May 2012 | Filed under: Uncategorized

« « Cerita Sebelumnya: Kopi, Rokok, dan Koran

Oleh: FlaPuding

Seperti biasa, Seana dan Gina menghabiskan malam minggu mereka dengan nge-date di sebuah mal. Kali ini mal di bilangan Jakarta Pusat menjadi pilihan mereka berdua.

“Pasti bakal susah nih cari parkiran,” desis Gina selagi mereka memasuki parkiran mal.

“Namanya juga wiken. Di mana-mana pasti ramai semua, Sayangku.” Seana menjawil dagu Gina ketika melihat wajah gadisnya yang cemberut. Padahal Seana yang menyetir, tapi Gina selalu lebih kesal daripada si pengemudi.

Malam minggu, hari di mana semua mal di Jakarta ramai dipenuhi oleh pasangan dan keluarga yang menghabiskan malam mereka. Baik keluarga dan pasangan heteroseksual, maupun homoseksual, semuanya berbondong-bondong menyerbu makanan. Dari restoran yang harganya selangit sampai foodcourt yang ramah dengan kocek anak kosan. Tak lupa juga bioskop sebagai tempat favorit yang penuh antrian.

Continue Reading »

Older Entries »

Switch to our mobile site

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.